Selasa, 31 Januari 2012

Maaf, Aku Sayang Kamu

Cinta adalah masalah klise. Semua orang pernah mengalami masalah dengan sebuah perasaan yang disebut cinta. Cinta itu kadang membawa kebahagiaan, kadang membawa sebuah bencana. Bahkan orang rela membunuh demi cinta. Tapi bukan itu yang aku rasakan.
Aku merasa aku adalah orang terbodoh di dunia karena cinta. Hal ini bermula pada saat aku kelas II SMP, lebih tepatnya empat tahun yang lalu. Ada seorang lelaki mendekatiku, dia adalah teman kakakku dan juga teman satu mobil antar jemputku. Aku tidak munafik, aku suka padanya. Dia juga begitu. Setiap pulang sekolah, aku selalu duduk bersamanya di mobil antar jemput. Kami selalu bercanda bersama. Dia tidak terlalu tampan, walaupun uang yang dia miliki tidak terkira. Dia tidak pernah menganggapku rendah karena aku tidak sekaya dia. Lagipula, aku juga tidak pernah mendapat perhatian dari laki-laki lain kecuali ayahku. Aku senang dia ada untukku.
Selama aku dekat dengannya, aku paling suka mendengarkan lagu ‘Kenangan Terindah’ yang dibawakan oleh grup band Samsons. Aku tidak tahu ada apa dengan lagu itu, tapi aku suka dengan musiknya. Dia memiliki lagu itu di handphone-nya dan aku sering meminjamnya untuk mendengarkan lagi itu. Mungkin secara tidak sengaja, kami disatukan dengan lagu perpisahan itu.
Semakin lama aku semakin dekat dengannya. Aku bukan pacarnya dan belum menjadi pacarnya, tapi aku sering melarangnya untuk merokok dan minum minuman keras. Aku sering memarahinya jika dia berbuat salah layaknya aku ini pacarnya. Herannya, dia menuruti perkataanku. Dia tahu aku tidak suka pria yang merokok dan suka minum, sampai dia rela tidak merokok dan berkumpul bersama temannya apabila ingin bertemu denganku. Kedekatan kami selama beberapa bulan itu terasa begitu indah dan sempurna.
Tapi kenyataan berkata lain. Pada saat aku ulang tahun dia memintaku untuk jadi miliknya. Tapi aku tolak dengan halus. Aku tidak tahu atas dasar apa aku berkata seperti itu. Mungkin karena aku terlalu peduli dengan teman-temanku yang tidak ingin aku menjadi miliknya sampai-sampai aku tidak memikirkan perasaanku sendiri. Sampai saat itu aku tidak merasakan apa-apa kecuali perasaan bersalah pada dirinya. Ditambah lagi setelah aku menolaknya, dia datang ke rumahku untuk yang pertama dan terkahir kalinya untuk memberikan hadiah ulangtahun untukku. Hanya hadiah sederhana, secarik kertas berisikan lirik lagu ‘Kenangan Terindah’ yang pernah aku minta darinya dan sebuah voucher pulsa IM3. Aku tambah merasa bersalah. Aku terus menjauh darinya karena aku merasa bersalah.
Waktu pun berlalu dan aku tidak lagi bersekolah di sekolah yang dulu. Aku pindah ke tempat,yang menurut ibuku, bagus. Aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya. Aku sempat mencoba untuk mengirimkan SMS tetapi tidak bisa. Aku pikir dia sakit hati padaku dan memutuskan untuk tidak menghubungiku lagi.
Aku sudah memiliki pacar dan hidupku sudah tidak seperti dulu lagi. Aku sudah menjadi seorang siswi SMA dan aku sudah memiliki teman yang berbeda pula. Sampai pada suatu hari aku mencoba untuk menghubunginya melalui salah satu situs pertemanan yang cukup terkenal, Facebook. Aku tidak hafal berapa nomor handphone-nya, tapi aku tahu emailnya. Aku coba untuk mencarinya dan voila! Aku menemukan namanya lalu aku add dia.
Aku juga mencoba untuk meng-add MSN-nya. Dan bravo! Aku langsung di approve. Saat itu juga aku bercakap-cakap dengannya. Setelah tiga tahun aku tidak pernah berbicara dengannya, rasanya sangat ganjil untuk berbicara. Aku masih merasa tidak enak. Setiap aku mendengar namanya aku langsung mengingat apa yang telah aku lakukan dulu. Aku tidak bisa melupakan saat itu. Saat aku mencampakkan orang yang sayang padaku.
Sejauh ini percakapanku dengannya cukup berjalan dengan lancar. Tidak ada salah kata, bahkan kami sempat bercanda satu sama lain. Aku menanyakan kabarnya dan dia bilang dia sedang sakit. Kakinya habis dioperasi karena tulangnya retak. Kontan aku kaget. Sebagai teman aku merasa aku perlu menjenguknya. Kami bertukar nomor handphone dan aku sign off untuk mandi dan tidur karena itu sudah malam.
Selang beberapa hari aku berencana untuk menjenguknya. Aku SMS dia untuk meminta ijin datang. Dan ijinku diterima dengan sangat baik. Dia mempersilahkan aku datang ke rumahnya kapanpun yang aku mau. Aku senang karena aku bisa bertemu teman lamaku. Teman spesial lamaku lebih tepatnya.
Aku mengetuk pagar depan rumahnya dan pembantunya mempersilahkan aku masuk. Aku diantar ke kamarnya dan aku takut untuk masuk. Lagi-lagi aku terbayang akan kesalahanku padanya. Aku takut selama beberapa hari ini dia hanya berpura-pura baik padaku. Aku buka pintu kamarnya perlahan-lahan dan aku mengintip ke dalam. Aku lihat dia sedang terbaring di ranjang dengan kakinya yang di-gips. Dia tersenyum lebar padaku, senyuman yang sama dengan senyuman yang dulu dia berikan untukku. Aku tertegun. Dia sama sekali sudah lupa dengan hal itu. Ingin rasanya aku meminta maaf, tapi sepertinya dia sudah lupa.
Aku bermain dan berincang-bincang dengannya selama beberapa jam. Sialnya, dia masih memperlakukanku seperti dulu. Dia mengelus kepalaku, merangkulku, mengelus wajahku. Dia memanjakanku layaknya aku tiga tahun lalu. Padahal dia tahu aku sudah punya pacar. Tapi aku heran, aku tidak bisa menolaknya. Aku suka keadaan seperti itu dan aku nyaman dengan keadaan seperti itu. Awalnya aku merasa aku hanya terbawa perasaan.
Tiba saatnya aku untuk pulang. Aku pamit padanya dan keluar dari rumahnya. Dia memanggilku dari teras kamarnya dan mengucapkan terimakasih. Dia melihatku terus sampai aku tertutup pohon-pohon yang berderet di depan rumahnya. Setelah itu aku melihat statusnya di Facebook. Dia menulis sebagian dari lirik lagu.

“Lama sudah tak kulihat kau yang dulu kumau.. Kadang ingat kadang tidak bagaimana dirimu.. Kau cantik hari ini..dan aku suka.. Kau lain sekali..dan aku suka..” (by Lobow)

Dilihat dari isi lagu itu, aku sadar bahwa lirik lagu itu ditujukan untukku. Ingin rasanya aku menangis jika aku melihat semua itu. Aku tidak bisa tahan dengan semua perlakuan dia. Hatiku serasa sakit saat membacanya dan rasa ingin minta maafku semakin besar.
Aku bertemu dengannya dua hari kemudian. Aku masih ingin menemuinya sekali lagi walaupun itu adalah pertemuan untuk yang terakhir kalinya. Aku melihatnya sedang chatting dengan salah satu temannya. Entah mengapa, tiba-tiba aku bertanya, “Cewek lo,ya?”
Dan dia menjawab, “Bukan.. cuma temen..”
Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Tapi itu bukan urusanku. Lagipula, jika memang dia menyembunyikan sesuatu, aku tidak berhak melakukan apa-apa.
Ternyata benar saja dia menyembunyikan sesuatu. Dia membohongiku. Keesokkan harinya, statusnya di Facebook sudah ‘in relationship with Noviana Claudia’. Sedangkan isi chatting yang kemarin aku lihat itu bukan hanya sekedar ‘teman’.
Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bukan dari luar, tetapi dari dalam diriku sendiri. Selama tiga tahun aku tidak pernah menyadari perasaanku padanya, baru hari ini aku merasa kalau aku juga sayang padanya! Aku merasa sangat bodoh karena telah memberikan sebuah jawaban yang membuatku merasa seperti ini. Tanpa aku sadar aku menangisi sesuatu yang seharusnya sudah aku tangisi dari dulu. Sesuatu yang seharusnya tidak aku buang.
Selama beberapa hari aku merasa ragu pada diriku sendiri. Aku bercerita pada pacarku tentang semua itu. Aku rasa aku perlu jujur padanya. Aku hanya menceritakan apa yang terjadi sewaktu aku di rumahnya dan bagaimana perasaanku. Tapi jawaban yang diberikan pacarku membuatku semakin tidak bisa melepaskannya. Dia bilang, “Kalau kamu memang merasa nyaman sama dia, merasa bahagia sama dia.. Aku rela melepaskan kamu.. Itu hak kamu untuk bahagia..”. Aku semakin tidak tega untuk melepaskan pacarku karena dari jawaban itu aku tahu kalau dia sayang padaku. Dan aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama begitu saja.
Berkali-kali aku mencoba untuk mengatakan maaf padanya tapi aku tidak berani. SMS yang sudah aku ketik, selalu tidak jadi aku kirim. Dia tidak pernah mengungkit hal itu dan aku tidak mungkin tiba-tiba mengatakan ‘maaf’ dan sebagainya. Butuh waktu berhari-hari untuk mengatakannya. Sebulan kemudian keberanianku baru terkumpul. Aku mencoba untuk mengatakkan padanya melalui SMS. Aku berharap dia tidak akan membalasnya,tapi ternyata dia membalas. Dia memaafkanku dan dia berkata, “...Lebih baik melihat yang ada di depan, jangan melihat kebelakang.. Jalan hidup kita kan masih panjang..”
Tapi aku sama sekali tidak lega membaca pesannya. Aku masih menyimpan rasa sayang ini. Butuh waktu berbulan-bulan untuk melupakan dirinya. Sampai sekarang, aku masih menyayanginya dan aku tidak rela melihatnya pacaran dengan orang lain. Sampai detik ini, dia masih jadi sebuah kenangan terindah untukku. Bagaikan sebuah lagu keramat, lagu itu yang mempertemukan kami. Namun lagu itu juga membawa sebuah kenangan yang paling indah saat kami sudah tidak lagi bersama. Aku masih berharap bisa bertemu dengannya dan memeluk dirinya untuk yang pertama dan terakhir.

By Ervina(si monyet)



Cerpen ini didedikasikan untuk Laurentius Radhitya, orang yang mengajarkan cinta padaku untuk pertama kali, dan Dimas Pratama, orang yang mencintaiku sampai detik ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar